Solusi Radikal Atas Krisis Keuangan

Written by administrator   // February 11, 2012   // 0 Comments

Was4305551

Banyak yang dapat dikatakan terhadap komitmen, dorongan, dan ketabahan dari ribuan orang di seluruh dunia yang menantang musim dingin untuk menjadikan “occupy movement” untuk tetap bermartabat dan tetap hidup. Gerakan ini telah menangkap imajinasi rakyat banyak dan tidak sedikitpun memberikan gangguan bagi pihak perbankan dan elit pemerintahan. Sementara survei opini menunjukkan bahwa keluhan terbesar dari para peserta protes itu berpusat pada masalah korupsi, khususnya di sektor keuangan yang telah membawa dunia ke tepi jurang kehancuran, sehingga terdapat jauh lebih banyak yang harus dilakukan untuk mengembangkan alternatif yang nyata yang bisa diterapkan untuk menyelesaikan keadaan yang berantakan yang telah membawa kita pada keadaan saat ini. Bagian yang banyak mendapat kritik dari gerakan para pemrotes itu adalah kurangnya solosi komprehensif yang ditawarkan, padahal cukup tepat untuk menyoroti dominasi dan bias dari penduduk kaya yang berjumlah 1% itu, sementara kepemimpinan massa membutuhkan solusi yang terang dan jelas.

Bagaimana Solusi Islam atas masalah ini?

Bagaimana Khilafah yang akan terwujud menyelesaikan masalah seperti ini?

Riba

Seluruh riba dalam Islam adalah dilarang. Setengah persen dari sekuritas pemerintah, 5 % atau 10% biaya bank pada obligasi negara, 25% pada kartu kredit, atau 4.000% pada para rentenir -semuanya adalah dilarang. Dalam upaya bernada putus asa untuk menggerakkan ekonomi, pemerintah telah terus menurunkan suku bunga menjadi hampir nol, tetapi hanya bagi lembaga-lembaga keuangan mereka. Menariknya, bank-bank membebankan apa yang mereka suka dengan impunitas untuk membuat margin keuntungan besar. Sistem ini memberikan bank carte blanche (kekuasaan penuh)-untuk menang dari makan siang gratis ini dan yang pasti hal ini harus menjadi daftar tuntutan teratas bagi perubahan. Bayangkanlah dampak positif dari pengurangan semua nilai hutang bunga menjadi nol – hal ini jauh lebih baik bagi Yunani, Portugal, dll untuk membayar nol persen bunga dan membayar kembali pinjaman mereka daripada harus meminta pemotongan atau gagal bayar. Mengapa masyarakat mentolerir “perantara” ini yang terus-menerus mencuri dari masyarakat tanpa memperhatikan tingkat riba yang mereka tetapkan dan dengan resiko yang relatif kecil? Bukankah betapa jauh lebih baik bagi kita saat ini jika dana talangan yang membuat semua hipotek pada tingkat nol persen daripada uang dengan tingkat suku bunga nol persen dan ratusan miliar pinjaman dari pembayar pajak diberikan kepada para bankir?

Standar Emas/Perak

Yang tidak masuk akal adalah bahwa pemerintahan meninggalkan standar uang kertas (fiat money) dan semua penderitaan yang ditimbulkannya. “Anggaran defisit yang besar dan tidak ada yang bersedia memberikan kepada Anda? Tidak masalah, karena pemerintah anda tinggal mencetak uang kertas lebih banyak lagi. “Ini merupakan sulap keuangan.. Hal ini disebut pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), dengan sentuhan operasi, dan sekarang mentargetkan uang PDB, yang kesemuanya berarti peningkatan mendasar pada uang kertas untuk memenuhi pengeluaran pemerintah yang lebih banyak. Dan adalah masyarakat yang harus membayar pajak siluman ini sebagai uang mereka yang daya belinya terus menurun. Sejak Nixon dengan sewenang-wenang menghapus dukungan emas atas mata uang pada tahun 1971, dolar AS (dan mata uang inti lainnya) telah menurun nilainya dibandingkan dengan nilai emas rata-rata 10 % per tahun. Ini berarti harga yang sangat tinggi bagi masyarakat untuk membayar dalam hal penurunan nilai uang mereka dan melalui inflasi dalam harga barang dan jasa.

Khilafah mengoperasikan logam ganda (bi-metal) yakni emas dan perak dan uang kertas, koin, atau uang elektronik yang harus 100% didukung oleh emas dan perak. Negara tidak dapat dengan ceroboh meningkatkan pasokan uang sekehendak para pemimpinnya. Hutang yang bernilai $ 15 triliun ($ 6 triliun dari jumlah itu muncul sejak tahun 2008) menyoroti bagaimana pemerintahan dengan tanpa terkontrol sangat sedikit memperhatikan kemakmuran dari orang-orang yang menggunakan dolar.

 

[Silakan lihat artikel ini untuk membaca lebih rinci artikel tentang Standar Emas dan link pada laporan terbaru yang menangani subjek pelaksanaannya]

Reformasi Keuangan Yang Sebenarnya

 

Terdapat laporan di Inggris bahwa Vickers memberikan sektor perbankan 8 tahun untuk menerapkan perubahan yang relatif kecil termasuk tingkat pemisahan antara investasi dan perbankan ritel. Hal ini mengejutkan-karena kurangnya kesan baik untuk mendapatkan pengakuan-mengingat adanya kegagalan di bidang ini pada beberapa tahun terakhir. Penciptaan uang yang tak terkendali, membengkaknya derivatif, meluasnya perjudian, dan ditutup dengan dana talangan dari pemerintah dengan uang rakyat dapat diringkas menjadi kenyataan bahwa tidak ada orang yang ditangkap atau didenda, dan tidak ada perubahan signifikan dari taktik yang telah diambil. Seolah-olah tidak ada yang terjadi.

 

Islam tidak memperbolehkan dana talangan pemerintah dari perusahaan-perusahaan pembiayaan, penjualan efek atau komoditi berjangka (short selling) dari aset keuangan, perdagangan emas dan perak di bursa berjangka (hanya spot trading untuk pengiriman segera), penjualan aset-aset yang tidak dimiliki oleh penjual, dan berbagai kontrak perjudian yang berbunga, asuransi (CDS), dan perdagangan berorientasi masa depan (future oriented trading). Kita telah menyaksikan konsekuensi dalam hal ketidakstabilan dan betapa hal ini menguras dompet masayarakat dan hanya memburuk masalah. Selama praktek-praktek korup fundamental yang tidak menambahkan apapun bagi perekonomian terus berlanjut, dan tidak ada undang-undang yang melarangnya, maka masyarakat akan menderita bagi kepentingan bank.

Obsesi Pertumbuhan Ekonomi

Dengan utang yang lepas kendali, kembalinya kepada pertumbuhan dilihat sebagai hal penting, tidak hanya untuk menghasilkan pendapatan pajak untuk membayar kembali pinjaman, tetapi juga untuk memulihkan pertumbuhan pekerjaan. Tapi, dengan ekonomi yang terikat pada industri keuangan – baik melalui dana talangan yang mahal maupun undang-undang yang melindunginya – dan dengan bank-bank menguasai kas keuangan untuk meningkatkan neraca keuangan mereka yang melemah, hal ini dapat terus menguras perekonomian secara signifikan. Satu-satunya solusi yang diajukan adalah campuran antara pencetakan uang dan penghematan. Padahal ada cara lain. Untuk mengembalikan kembali investasi masyarakat pada jalurnya dibutuhkan suatu lingkungan di mana pengeluaran dan investasi adalah dianjurkan. Islam menangani ini dengan dua cara. Pertama, dengan menghapus semua investasi berbasis riba, dan menyatukannya dengan aturan yang mencegah penimbunan kekayaan / uang, sehingga masyarakat secara alami akan mencari pengembalian modal melalui investasi bisnis.

Akibatnya, pasar investasi perusahaan dalam negara Islam menjadi sangat bergairah dan para pesertanya berbagi risiko dan manfaat dengan investasi yang tergantung pada partisipasi aktual pada perusahaan bukan “perdagangan” didalam /diluar yang anonim seperti yang didukung oleh pasar barat. Sebuah elemen kunci kedua adalah sistem perpajakan yang tidak berinvestasi pada modal, dan memberikan insentif lain untuk investasi penuh.

Perhatian negara adalah memastikan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar penduduk, bukan memberikan target pada pertumbuhan yang seringkali diartikan sebagai kesejahteraan atas semua orang.

Perpajakan

 

Banyaknya pajak yang dikenakan atas masyarakat pada hari ini adalah merupakan suatu penindasan yang berat. Islam memiliki sistem yang lebih sederhana yang terutama didasarkan pada kemakmuran dan bukan pada pajak penghasilan. Dengan memfokuskan pada akumulasi kekayaan yang tidak diinvestasikan (yakni zakat sebesar 2,5% per tahun), pajak atas kapasitas produktif dari tanah (kharaj) dan pajak kepala (jizyah) dikenakan bagi mereka yang mampu, sementara negara mendorong tumbuhnya pekerjaan/ perusahaan dan investasi dan mencegah penarikan kekayaan dari peredaran, persis seperti kondisi yang dilakukan para bankir yang mendominasi ekonomi Barat, hal yang paling mengakibatkan penderitaan. Tak pelak, konsekuensinya adalah ruang yang sangat kecil bagi negara yang sama dengan persepsi umum bahwa pemerintah di dunia Barat telah mengambil tanggung jawab terlalu banyak dan memaksakkan pemulihan ekonomi dengan yang mengenakkan pajak yang lebih tinggi yang dibebankan secara tidak merata pada kaum yang lebih miskin melalui pajak pendapatan dan pajak konsumsi .

Kesejahteraan Sosial

 

Empat puluh delapan persen orang Amerika saat ini menerima beberapa bentuk pembiayaan bagi kesejahteraan dari pemerintah. Di Inggris, sepertiga anggaran negara tahunan secara keseluruhan (£ 200 miliar) dibelanjakan untuk pembiayaan bagi kesejahteraan. Meskipun hal ini menunjukkan dakwaan serius dari masyarakat kapitalis dan jurang yang sangat besar antara si kaya dan si miskin, inti masalahnya adalah dorongan tanpa henti terhadap individualisme yang kita telah saksikan dalam beberapa dekade terakhir. Perbedaan yang radikal dengan Islam adalah bahwa tanggung jawab utama bagi kesejahteraan jatuh kepada laki-laki dewasa dalam keluarga, kemudian kepada keluarga yang lebih luas (yakni orang tua, anak-anak yang telah dewasa, saudara kandung) sebelum akhirnya jika jalan ke arah ini tidak tersedia lagi, maka negara akan memenuhi kebutuhan dasar (makanan, tempat tinggal, pakaian) bagi orang-orang yang kurang beruntung. Negara melengkapi kewajiban ini sebagai penyokong terakhir dengan menyediakan pendidikan dasar dan kesehatan.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengkampanyekan Masyarakat Besar yang baru, tetapi individu rakyat Inggris tidak berselera untuk mengadopsi tanggung jawab kolektif masyarakat, apalagi tanggung jawab keluarga.

Reformasi Tanah

 

Quran menekankan:

“Agar harta tidak beredar diantara orang-orang yang kaya saja” [Hasyr 59:7]

Pengumpulan lahan tanah yang luas ke tangan segelintir orang saja telah menyebabkan kemiskinan yang meluas pada masyarakat umum. Di Amerika, 15% penduduk saat ini bergantung pada kupon makanan untuk mendapatkan kebutuhan makanan sehari-hari. Kepemilikan tanah di salah satu negara terbesar dan paling subur di dunia itu hanyalah mimpi bagi sebagian besar orang, seperti juga yang sama menyedihkannya adalah yang terjadi di sebagian besar dunia Muslim karena tidak diterapkannya hukum Islam. Dalam hal ini, Hukum Islam adalah sangat dinamis dan memungkinkan kepemilikan yang luas di antara masyarakat umum. Jika lahan tidak digunakan selama jangka waktu 3 tahun, lahan itu akan akan beralih menjadi milik negara dan akan dialokasikan kembali kepada mereka yang akan menggunakannya. Setiap anggota masyarakat dapat mengklaim tanah mati atau yang tidak digunakan, dan menyewakan lahan oleh mereka yang tidak dapat memanfaatkannya secara langsung adalah hal yang dilarang. Hal ini ditambah lagi dengan pembatasan yang ketat terhadap segala bentuk penetapan harga yang ditafsirkan sebagai pemanfaatan lahan yang dinamis dan partisipasi yang jauh lebih luas dalam kekayaan tanah.

Kesimpulan

Adalah hal yang sangat tidak masuk akal jika para pemimpin dunia yang saat ini gagal untuk memecahkan krisis global akan mengambil pelajaran dari Islam untuk menyelesaikan masalah ini, terutama karena Islam memiliki pandangan dunia yang sangat berbeda atas bagaimana masyarakat melakukan fungsinya, dan menantang para elite yang duduk di atas tumpukan kekayaan yang dibuat diatas penderitaan orang lain.

Tapi, pelajaran dapat diambil dari bagian-bagian dunia yang sedang mengalami perubahan dramatis – seperti di Timur Tengah. Wilayah ini menghadapi pilihan: Apakah meniru sistem kapitalis Barat dan berharap untuk menghadapi semua masalah dari sistem yang sama yang mewabah dunia pada saat ini untuk akhirnya sampai di depan pintu-pintu mereka dalam beberapa tahun mendatang, Ataukah membangun sebuah visi yang berbeda bagi masa depan, dan mulai membangun ekonomi mereka dengan cara yang terbukti bisa memimpin dan terdapat contohnya, dan juga ekonomi yang dapat menghindari siklus pertumbuhan dan krisis (boom bust cycle economy) yang didorong oleh perbankan yang berbasis riba, perdagangan derivatif, dan mata uang fiat.

Fakta atas masyarakat Islam tidak dapat dengan mudah diringkas dalam beberapa kata seperti tersebut di atas, dan krisis keuangan adalah tidak berarti apa-apa dan bukan merupakan hal kompleks. Namun, permadani solusi atas manusia dari Islam yang kaya memberikan kontras yang tajam dengan solusi yang berorientasi bankir yang terus mewabah dunia. Jika kita ingin melihat kemajuan, maka solusi radikal harus ditampilkan dan didiskusikan.

Jamal Harwood adalah kontributor tetap untuk New Civilization (www.newcivilisation.com). Dia adalah seorang dosen di bidang Finance, dan merupakan anggota Komite Eksekutif Hizbut Tahrir Inggris.

Sumber: www.newcivilisation.com (translated by Riza)

 


Similar posts