Soal Jawab -Wasiat dan Mata Uang

Written by administrator   // September 14, 2011   // 0 Comments

33c1xcn_th

Jawab Soal – Wasiat dan Mata Uang

Pertanyaan:

Pertama, bolehkah seorang pengacara muslim menuliskan wasiat klien non muslim sesuai undang-undang Inggris, di mana klien itu mewasiatkan sebagian kekayaannya untuk pihak-pihak yang beberapa diantaranya adalah orang asing (bukan kerabat) atau kadang adalah haram seperti yayasan pemerhati anjing atau untuk night club …

Kedua, kita menyebutkan di sebagian besar nasyrah dan buku kita tentang mata uang, bahwa mata uang berupa emas dan perak baik dalam bentuk bendanya atau uang kertas substitusi. Di dalam kitab al-Amwal karangan syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullâh seputar masalah yang sama disebutkan bahwa negara bisa menggunakan emas dan perak dan logam lainnya yang sesuai selama emas tetap menjadi mata uang utama. Lalu apakah negara bisa menggunakan mata uang yang didukung oleh logam berharga lain disamping emas dan perak seperti platinum atau batu-batu mulia berharga seperti permata (diamond) dan sejenisnya?

 

Jawaban pertanyaan pertama:

  1. Jika muamalah antara pemilik wasiat yang kafir dengan pengacara muslim adalah muamalah ijarah untuk menuliskan wasiat milik orang kafir itu seperti yang ia dektekan kepada penulis muslim yang menjadi ajir, maka itu adalah akad untuk menuliskan wasiat. Jadi pengacara menuliskan apa yang didektekan orang kafir itu berupa wasiat, kemudian pengacara muslim itu mengambil upahnya dan tidak ada hubungan setelah itu dalam masalah wasiat tersebut …

Jika masalahnya demikian, maka itu boleh dengan syarat di dalam wasiat itu tidak disebutkan sesuatu yang bertentangan dengan akidah islamiyah. Karena menuliskan sesuatu yang bertentangan dengan akidah islamiyah dihukumi seperti mengucapkan sesuatu itu, dan itu tidak boleh.

Meski demikian, maka yang lebih utama tidak menuliskan wasiat tertentu selama di dalamnya terdapat hukum-hukum yang menyalahi hukum-hukum Islam. Hal itu untuk menjauhi syubhat rela dengan hukum-hukum yang dinyatakan di dalam wasiat orang kafir itu.

  1. Adapun jika muamalah antara pemilik wasiat dan pengacara muslim itu adalah muamalah wakalah, yaitu pengacara menjadi wakil bagi pemilik wasiat untuk melaksanakan wasiat itu … mengontak pihak-pihak yang ada hubungannya dan memberitahukan kepada mereka, melaksanakan implementasi wasiat itu sebagai wakil pemilik wasiat … maka muamalah ini tidak boleh, karena dalam kondisi ini pengacara muslim itu melaksanakan wasiat yang menyalahi hukum-hukum syara’ yang dia imani…

 

Jawaban pertanyaan kedua:

Mata uang di dalam Islam adalah emas dan perak secara langsung, atau penggunaan sarana lain semisal kertas dengan ketentuan di baitul mal terdapat emas dan perak substitusinya.

Bisa digunakan logam yang murah untuk sesuatu yang murah seperti logam tembaga seperti disebutkan di kitab al-Amwal. Hal itu karena pencetakan kepingan emas atau perak untuk sesuatu yang murah harganya, maka berat emas dan perak itu akan sangat kecil, tidak kuat untuk digunakan dan tidak sesuai selama peredarannya. Karena itu pencetakan logam yang lebih murah seperti tembaga misalnya, atau dicampur dengan emas dan perak yang memiiki berat sangat kecil dan sebagian besarnya adalah logam murah agar campuran itu memiliki berat yang pas untuk diedarkan di dalam jual beli sesuatu yang sangat murah adalah boleh.

Di kitab al-Amwal dinyatakan:

“Sebagaimana negara juga mencetak satuan-satuan yang lebih kecil, terbuat dari Perak, untuk memudahkan mendapatkan barang-barang yang murah. Perlu diperhatikan kenyataan bahwa kandungan perak dari satuan-satuan itu bisa sangat kecil dan penggunaannya dalam bentuk kepingan murni sulit, maka ditambahkan bagian-bagian tertentu dari logam yang tidak berharga dengan ketentuan jelas nisbah berat perak di dalam keping cetakan itu, dimana kejelasannya menghalangi kerancuan tertukar dengan nominal yang lain.

Dengan demikian kaum muslim telah berjalan berdasarkan standar emas dan perak, diatas basis dua logam (bimetal). Pada masa akhir Abbasiyah dan pada masa Atabik di Mesir, kaum muslim mencetak, disamping emas dan perak, mata uang terbuat dari tembaga untuk membeli barang-barang murahan dengan anggapan bahwa nilai intrinsik tembaga itu kecil. Keping tembaga itu bukan merupakan substitusi emas dan perak. Melainkan berdiri sendiri bersandar pada nilainya sebagai tembaga. Hal itu untuk membeli sesuatu yang murah”.

 

Begitulah, logam selain emas dan perak juga digunakan yang biasanya dari jenis yang murah. Akan tetapi di dalam peredaran tidak digunakan logam berharga yang lebih mahal dari emas dan perak. Karena obyeknya dalah sesuatu yang murah yang menuntut berat tertentu yang sesuai untuk digunakan. Dan itu tidak terjadi dengan menggunakan logam yang lebih mahal di dalam peredaran.

Adapun kebolehan penggunaan uang syar’i yang berasal dari logam yang lebih mahal dari emas dan perak seperti Platinum atau batuan mulia seperti permata (diamond) … Maka itu tidak boleh, sebab dalil-dalil syari’ah menyatakan bahwa uang adalah emas dan perak yang sudah diketahui. Dan tidak boleh di baitul mal terdapat kompensasi dalam bentuk logam lain hingga sekalipun logam yang lebih mahal dari emas dan perak karena sesuai hukum syara’ kompensasi finansial adalah emas dan perak. Logam selain emas dan perak hanya dinilai sebagai komoditi.

 

19 Syawal 141 H

28 September 2010 M


Tags:

dinar

mata uang

uang


Similar posts