SAATNYA EMAS DAN PERAK SEBAGAI MATA UANG GLOBAL – Bagian 2

Written by administrator   // November 3, 2011   // 0 Comments

9-7-2009-bisinflansi

Bagian – 2

SYARAT MATA UANG GLOBAL IDEAL

Ada beberapa syarat umum yang harus dipenuhi agar suatu mata uang layak menjadi mata uang global yang ideal. Pertama, intrinsiknya bernilai . Karena mata uang merupakan alat tukar,alat penyimpan kekayaan  dan alat pengukur nilai maka syarat utama adalah uang tersebut dirinya sendiri harus bernilai. Sebagai alat tukar ,ketika uang itu akan ditukar dengan suatu barang atau jasa yang berharga secara hakiki maka mata uang itu sendiri juga harus bernilai secara hakiki. Adalah adil jika kita ingin mendapatkan sebuah mobil bagus yang secara intrinsik bernilai tinggi, kita membayarnya dengan uang yang nilai intrinsiknya senilai dengan mobil tersebut. Sebagai alat pengukur nilai suatu barang dan jasa maka dzat internal mata uang tersebut juga harus bernilai,jika tidak, bagaimana bisa mata uang tersebut bisa mengukur dan menilai ‘harga’ suatu barang dan jasa yang hakikinya bernilai sementara dzat mata uang tersebut hakikinya tidak bernilai sama sekali. Suatu barang dan jasa itu bernilai karena dzatnya secara hakiki memang bernilai, tidak perlu ada dekrit atau keputusan dari pemerintah bahwa barang dan jasa tersebut bernilai. Dan barang dan jasa tersebut tetap bernilai meskipun ada dekrit pemerintah yang menyatakan bahwa barang dan jasa tersebut tidak bernilai. Sebagai contoh, beras secara intrinsiknya bernilai, walaupun ada keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa beras tersebut  tidak lagi menjadi bahan makanan pokok, maka beras tersebut intrinsiknya atau hakikinya tetap bernilai. Nah, jika dikaitkan dengan mata uang sebagai alat tukar dan alat pengukur nilai, maka dzat intrinsik mata uang tersebut harus bernilai dengan sendirinya secara hakiki tanpa perlu dekrit pemerintah yang menyatakan uang tersebut bernilai. Sebagai gambaran, beras dari dulu bernilai tanpa dekrit pemerintah. Ketika uang  yang berlaku tahun 30an ditukar dengan beras,maka pada tahun 30an uang tersebut bisa ditukar untuk mendapatkan beras. Tapi, ketika tahun 2010, uang tahun 30an tersebut tidak bisa lagi dipakai untuk membeli beras. Kenapa, karena sudah dinyatakan oleh pemerintah bahwa uang tersebut sudah tidak bernilai lagi dan tidak sah sebagai alat transaksi. Dari sinilah maka sifat mata uang itu harus terus-menerus bernilai intrinsiknya tanpa perlu dekrit pemerintah, karena sifat barang dan jasa yang akan dibeli dan diukur nilainya oleh uang itupun faktanya bernilai intrinsiknya terus menerus tanpa butuh dekrit pemerintah.  Maka terlihat bahwa mata uang kertas yang berlaku sekarang sebenarnya sudah bermasalah sejak awal karena secara intrinsik tidak bernilai kecuali hanya selembar kertas tipis nan kecil dan baru bernilai ketika dinyatakan bernilai oleh pemerintah yang suatu saat pemerintah akan  mencabut peryataannya itu.

Dari penjelasan itu maka mata uang yang layak dan memenuhi syarat intrinsik dan tanpa perlu dekrit adalah emas. Dunia sepanjang sejarah mengakui emas sebagai bahan material yang bernilai. Emas peninggalan suku Aztek, Inca, raja Fir’aun, Majapahit dan emas yang ditambang zaman sekarang sama-sama punya nilai yang sama sesuai kadar emasnya. Nilai emas zaman dulu tidak lekang oleh waktu, walau tertimbun dalam tanah berabad-abad. Dzat emas bernilai dengan sendirinya tanpa perlu dekrit penguasa manapun- kapanpun dan tidak bisa dihapus nilainya oleh suatu dekrit siapapun dan kapanpun.

Memang pernah bahan lain seperti kulit kerang, wol, garam dan teh menjadi mata uang. Umar bin Khathab saat menjadi khalifah juga pernah merencanakan kulit unta sebagai mata uang tambahan selain emas dan perak. Tapi bahan material ini terlalu kecil nilai intrinsiknya nyaris tak bernilai sehingga tidak layak sebagai bahan mata uang.

Sedangkan dilihat fungsinya sebagai alat penyimpan kekayaan maka mata uang yang sekarang jelas tidak bisa diandalkan. Uang kertas selalu turun daya belinya yang menandakan dia tidak bisa menjadi penyimpan kekayaan. Jika di tahun 90an uang lima ribu sudah dapat untuk membeli sepatu bagus tapi sekarang uang sebanyak itu untuk membeli sandal jepit saja tidak cukup. Diri uang kertas itu saja nyaris tidak bernilai lalu bagaimana bisa uang tersebut menjadi penyimpan kekayaan harta lain?

Syarat kedua, stabil. Mengingat peran uang sebagai alat tukar, alat pengukur nilai dan alat penyimpan nilai maka stabilitas nilai mata uang menjadi syarat mutlak. Indikator stabilitas suatu mata uang bisa dilihat dari inflasi dan nilai tukar dengan mata uang lain (kurs). Karena uang dipakai sebagai alat pembayaran barang dan jasa maka kestabilan nilai mata uang akan berpengaruh kepada harga barang dan jasa. Demikian juga jumlah peredaran mata uang akan berpengaruh pula terhadap harga barang dan jasa.

Ketika uang kertas yang pencetakannya tidak di back up oleh harta berharga seperti emas maka penerbitan suatu mata uang akan sangat cepat, mudah dan murah. Apalagi ketika negara tersebut terlilit defisit perdagangan atau anggaran seperti yang pernah dilakukan amerika. Pencetakan uang kertas yang sangat murah dan mudah ini mendorong suatu negara mencetak mata uang sesuai yang mereka butuhkan walaupun beresiko inflasi karena begitu dicetak dan diedarkan berarti jumlah uang yang beredar bertambah. Pertambahan jumlah uang yang beredar akan memicu kenaikan tingkat permintaan terhadap barang dan jasa konsumsi yang berujung pada kenaikan harga barang dan jasa

Produksi barang dan jasa membutuhkan proses dan waktu yang cukup panjang,perlu modal besar dan beresiko gagal apalagi jika produksi di bidang pertanian sehingga ketersediaan barang dan jasa tidak bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Ketidakselarasan antara kecepatan, kemudahan, dan resiko dalam mencetak uang yang sangat mudah dan murah dibanding dengan proses pembuatan barang dan jasa yang butuh waktu dan proses lama itulah yang menyebabkan jumlah uang yang beredar jauh melebihi jumlah barang dan jasa yang tersedia untuk dikonsumsi dan inilah inflasi.

Melihat karakter pencetakan uang kertas yang murah meriah seperti itulah yang akan senantiasa berakibat jumlah uang yang beredar jauh melebihi ketersediaan barang dan jasa sehingga uang kertas selamanya akan menimbulkan inflasi. Dan inflasi yang terus menerus pertanda tidak stabilnya mata uang.

Emas memberikan jawaban atas masalah inflasi ini. Ketersediaan emas untuk dijadikan bahan mata uang membutuhkan waktu dan proses yang kurang lebih sama dengan pengadaan barang dan jasa karena toh emas pada dasarnya juga barang. Pengadaan emas dimulai dari survey lapangan, eksplorasi biji emas, pengolahan, dan pencetakan membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang. Belum lagi dengan ketesediaan bahan emas di alam yang relatif sedikit dan tidak mudah ditemukan. Intinya dibutuhkan pengorbanan yang besar untuk menghadirkan uang emas di masyarakat.  Inilah sebabnya tidak gampang untuk mencetak uang emas sehingga keberadaan jumlah uang emas yang beredar terkendali. Bandingkan dengan mencetak uang kertas yang segampang dan semurah membuat uang mainan anak-anak.

Keselarasan kecepatan, tingkat kesulitan, dan resiko tersedianya emas yang siap dijadikan bahan mata uang dengan kecepatan, tingkat kesulitan dan resiko   memproduksi barang dan jasa yang akan dibeli dengan uang emas itulah yang menjadikan jumlah uang yang beredar seimbang dengan barang dan jasa. Dampaknya harga-harga relatif stabil dan inflasi teratasi.

Memang bisa saja inflasi itu terjadi ketika ditemukan deposit emas dalam jumlah besar karena hal itu berarti menambah jumlah uang yang beredar dalam jangka pendek. Tetapi karena sifat penemuan emas yang sesekali dan tidak terus menerus maka inflasi juga hanya sesekali sebagai reaksi ditemukannya emas baru. Tetapi penambahan jumlah uang emas yang beredar itu akan diikuti dengan penambahan produksi barang dan jasa sebagai dampak dari naiknya permintaan terhadap barang dan jasa karena bertambahnya jumlah uang yang beredar. Dan kestabilan hargapun tercipta.

Indikator kedua dari stabilitas suatu mata uang adalah pertukaran mata uang tersebut dengan mata uang lain. Tidak adanya kesamaan dan kesatuan standar mata uang menyebabakan kurs berubah- ubah dan menjadikan kegiatan ekonomi tidak stabil baik dalam perdagangan luar negeri maupun dalam negeri. Tidak adanya kesamaan standar mata uang juga berpengaruh pada nilai kurs yang berubah ubah dan ini jelas akan mengganggu kestabilan ekonomi. Sebagai gambaran ketika 1 dolar senilai Rp 9000,00 lalu terjadi perubahan kurs menjadi Rp 18.000,00 maka importir Indonesia akan menambah uang Rp 9.000,- untuk setiap 1 dolar pembelian dengan kata lain harga naik dua kali lipat jika dilihat dari rupiah yang harus dikeluarkan walaupun harga tetap 1 dolar. Akibatnya permintaan produk impor akan turun drastis. Akibatnya negara eksportir akan pengalami penurunan permintaan barang dari Indonesia. Negara tersebut akan mengurangi jumlah produksinya yang bisa berakibat pengyrangan jumlah tenaga kerja. Dampaknya bagi Indonesia sendiri kalau toh mengimpor barang dari luar yang dibayar dengan dolar maka harga jual ke konsumen pasti naik apalagi kalau yang diimpor adalah bahan baku seperti gandum. Kenaikan harga jual akan diikuti oleh penurunan permintaan. Akibatnya produksi barang di Indonesia yang ada kandungan bahan impornya akan berkurang. Hal inipun bisa berdampak pada PHK karena produksi yang berkurang. Maka jelaslah bahwa mata uang kertas tanpa back up emas yang menjadi standar universal akan senantiasa membawa kegoncangan ekonomi.

Dunia membutuhkan mata uang berstandar emas yang berlaku secara internasional. Kesamaan standar uang internasional inilah yang menjamin kestabilan kurs yang berdampak pada kestabilan perdagangan internasional maupun dalam negeri. Sebagai misal seandainya  1dolar dipatok sebesar 1gram emas, 1rupiah sebesar 2 gram emas dan 1 euro sebesar 4 gram emas maka kursnya adalah 1dolar : ½ rupiah : ¼ euro. Kurs ini akan relative tetap selama standar mata uang masing masing terhadap emas tetap. Tetapnya kurs inilah yang menjadikan kegiatan perdagangan internasional stabil karena adanya jaminan kesttabilan kurs.

Syarat ketiga adalah rasa keadilan. Keadilan mata uang bisa dilihat dari nilai intrinsiknya dan kemampuan daya tukarnya. Uang kertas memiliki nilai teramat kecil nyaris tak bernilai dilihat dari sisi dzat bendanya. Satu dolar amerika biaya produksinya cuma empat sen, tapi nilai nominalnya seratus sen,artinya nilai selembar kertas satu dolar telah dikatrol sebesar duapuluh lima kali dari nilai sebenarnya. Lalu kalau uang sepuluh dolar, berapa biaya produksinya?tidak jauh dari empat sen. Nah lalu berapa kali dia dikatrol nilainya. Inilah ketidakadilan uang kertas.

Ketidakadilan dalam hal daya beli uang kertas juga terlihat nyata. Bagaimana bisa dikatakan adil jika sebuah motor baru yang dibuat melalui proses yang panjang,rumit,curahan tenaga,modal,energi dan fikiran besar, bisa dimiliki hanya dengan menukar 150 lembar uang seratus ribu rupiah. Terlebih lagi jika kita mengekspor barang-barang berharga seperti minyak bumi,gas,besi,kayu dan lain-lain yang nyata-nyata bermanfaat bagi manusia tapi hanya dibayar dengan lembaran kertas dolar,yen,euro  yang intrinsiknya tidak bernilai. Sungguh tidak adil.

Emas memiliki syarat keadilan. Ketika orang membutuhkan barang dan jasa yang dia butuhkan maka dia harus membayar kompensasi yang seimbang. Dia harus memiliki dulu emas yang nilainya sebanding dengan nilai barang dan jasa yang mau dia beli. Karena emas memilki nilai intrinsik sebesar wujudnya dan membutuhkan pengorbanan yang cukup besar untuk memperolehnya maka adil kalau emas tersebut bisa ditukar dengan barang dan jasa yang intrinsiknya bernilai sebesar wujudnya dan butuh pengorbanan untuk mendapatkannya.

Syarat berikutnya adalah kemudahan dan fleksibilitas. Uang kertas jelas memiliki kemudahan dan fleksibel karena ringan dan mudah dibawa kemana-mana. Bahkan bisa diambil lewat ATM. Nah bagaimana dengan emas?Kalau konvensional ya koin emas itu yang dibawa kemana-mana. Jelas ini tidak fleksibel. Tapi ini mudah diatasi. Dasar mata uang tetap emas dan perak. Negara tetap mencetak uang emas dan perak. Tetapi dalam transaksinya dilakukan dengan mencetak uang kertas subsitusi. Jumlah nilai uang kertas subsitusi itu sama persis dengan jumlah nilai koin emas perak yang dicetak sehingga  dimanapun dan kapanpun uang kertas substitusi itu bisa ditukar dengan dengan uang koin emas dan perak. Belum lagi jika menggunakan instrumen digital berupa kartu ATM untuk transaksi. Ini jelas akan memberikan kemudahan dan flesibilitas dalam transakasi.

Dilihat dari syarat-syarat pokok yang harus dipenuhi sebuah mata uang, emas memenuhi semua syarat tersebut. Syarat-syarat penunjang seperti mata uang harus terbuat dari bahan yang tahan lama, emaspun memenuhi syarat tersebut. Ini semua menjadi dasar yang sangat kuat untuk menjadikan emas sebagai bahan mata uang dunia. Apalagi sejarah telah membuktikan kestabilan dan keadilan ekonomi terjadi ketika emas menjadi mata uang dunia.

bersambung…….

 


Tags:

dinar; mata uang; uang

emas


Similar posts