SAATNYA EMAS DAN PERAK SEBAGAI MATA UANG GLOBAL – Bagian 1

Written by administrator   // November 1, 2011   // 0 Comments

9-7-2009-bisinflansi

Terjadinya krisis finansial global yang telah berlangsung secara berulang secara periodik, membuka mata dunia untuk menilik kembali doktrin ekonomi kapitalis yang selama ini menjadi pakem suci tak terbantahkan di seantero jagad. Semua lini kegiatan ekonomi dunia baik sektor investasi, produksi, distribusi dan konsumsi sarat dengan kaidah-kaidah kapitalis, menembus batas agama,suku,ras, warna kulit dan bahasa. Sehingga warna ekonomi yangg dihasilkan relatif sama di seluruh dunia dengan  sedikit perbedaan saja. Demikian juga jika muncul dampak negatif akibat penerapan ekonomi kaptalis di suatu negara, sedikit banyak akan berdampak sama pada negara lain, dan itulah yang terjadi pada krisis finansial Amerika.

Kesamaan warna ekonomi dunia bisa kita saksikan bahwa kegiatan ekonomi setiap negara bersandar pada riba, bursa saham dan valas, mata uang yang berdasarkan fiat money, fokus pada pertumbuhan  ekonomi yang ditopang sektor nonriil, distribusi kekayaan yang timpang dan kacau, jurang kekayaan antara orang kaya dan miskin sangat lebar, kebebasan kepemilikan sehingga semua jenis kekayaan suumberdaya bisa dimiliki perorangan(swastanisasi),dan dijalankannya sektor nonriil yang penuh spekulasi.

Salah satu pilar utama kapitalis adalah digunakannya mata uang kertas sebagai mata uang resmi negara berdasarkan dekrit pemerintah, tanpa jaminan emas atau menjamin dengan emas yang dikenal dengan fiat money. Mata uang yang sejatinya hanya lembaran kertas tipis yang kemudian diwarnai dan dibubuhi tanda  tangan pejabat negara sebagai tanda jaminan berharganya uang itu, ternyata bisa dipakai untuk membeli kekayaan sumberdaya yang secara haqiqi sangat  bernilai dan bermanfaat bagi mausia. Sebuah mobil mewah bisa diperoleh hanya dengan menyerahkan sebanyak 10.000  lembar uang pecahan Rp100.000,00.

Melihat kesaktian uang kertas itu maka permainan uang pun terjadi dan korban korban pun berjatuhan. Maka dunia pun  mulai menggugat keberadaan dan peran uang itu yang sejak awal  keberadaannya memang sudah menjadi masalah. Para ekonom kemudian menilik kembali diberlakukannya sistem mata uang bimetal emas dan perak.

 

Sejarah Perjalanan Mata Uang

Kebutuhan manusia terhadap barang-barang yang akan memenuhi hajat hidupnya sangatlah banyak dan beragam. Seseorang tidak bisa menyiapkan dan memenuhi sendiri semua kebutuhannya terhadap barang-barang tersebut. Disinilah kemudian mereka saling bertukar barang demi memenuhi hajatnya, yang dikenal dengan sistem barter. Tetapi model barter ini memiliki banyak kendala sehingga manusia berfikir perlunya media penengah ketika mereka bertransaksi. Suku-suku di Afrika menggunakan sapi atau kambing sebagai media tukar, di Tibet memakai teh ikat, di Yunani memakai kerbau dan masyarakat Indian menggunakan gula atau wol. Alat-alat media tukar itu ibarat uang zaman sekarang dan berfungsi sebagai uang.

Alat tukar kemudian berganti dengan bahan logam. Yunani kuno telah mencetak uang emas, perak, dan perunggu sekitar tahun 406 SM. Mata uang utama Yunani disebut drachma yang terbuat dari perak. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bangsa Lydia yang terletak di Asia Kecil telah mencetak uang logam  pada tahun 570 SM. Bangsa Persia juga telah mengenal percetakan uang setelah menaklukkan bangsa Lydia tahun 546 SM. Bangsa Cina juga telah mencetak uang perak pada masa Dinasti Hang (206 SM-220 SM). Dan pada tahun 300an SM, Romawi telah mencetak mata uang perunggu dan tahun 268 SM telah mencetak uang emas yang disebut denarius. Masyarakat Islam juga memakai mata uang emas dan perak yang dikenal dengan dinar dan dirham. Jadi mata uang logam khususnya emas dan perak telah lama dikenal dan dipakai oleh manusia; sejak zaman sebelum masehi hingga abad 20. Sehingga ketika manusia ingin kembali ke sistem mata uang emas dan perak sebenarnya hal itu wajar-wajar saja.

Masa berikutnya adalah masa uang kertas. Untuk pertama kali tahun 910 M Cina mencetak uang kertas yang seluruhnya ditopang oleh emas dan perak. Eropa mulai menerbitkan uang kertas abad ke 17-18 M dan selalu ditopang oleh emas dan perak. Mereka memiliki patokan atau standar uang kertas yang dicetaknya dengan sejumlah emas dan perak. Belanda mematok 1 gulden dengan 0,60561 gram emas. Jerman mematok 2790 mark dengan 1 kg emas. Spanyol mematok 31 pesetas dengan 9 gram emas. Amerika sendiri tahun 1792 mematok dolarnya dengan perak dan berakhir tahun 1964. Tahun 1933 AS mematok U$ 35 dengan 1 troy ons ( 31,1 gram emas) tetapi berakhir tahun 71 setelah negara tersebut tidak mampu lagi mem back up kertas dolarnya dengan emas. Dan sejak saat itu hingga detik ini mata uang kertas yang beredar samasekali tidak di back up dengan emas maupun perak.

bersambung…….

 


Tags:

dinar; mata uang; uang

emas

perak


Similar posts