Petaka Kapitalisme dalam “Black Friday”

Written by BoniShall   // December 8, 2014   // Comments Off

Black-Friday-Line

Adakah ada di antara anda yang tidak suka barang dengan harga diskon ? Aneh rasanya jika ada yang tidak suka barang murah. Semua orang suka barang yang dijual dengan harga diskon. Entah itu gagdet terbaru, peralatan elektronik,  peralatan dapur atau yang lainnya. Menjadi kebiasaan di negeri barat, orang selalu mencari barang murah, terutama menjelang Natal. Tapi ada perbedaan mencolok antara orang-orang yang memenuhi jalan dan rela mengantre selama berjam-jam untuk mendapat kesempatan tawar menawar di toko-toko terbaik Inggris selama Boxing Day, suatu ritual tradisi sehari setelah Natal. Dengan perilaku kekerasan seperti binatang yang disaksikan pekan lalu selama penjualan obral “Black Friday”.

 

 

Orang-orang yang pada hari biasa tertib mengantri dan menunjukkan orang yang berbudaya. Pada hari “Black Friday” tiba-tiba berubah menjadi srigala ganas yang berkelahi satu sama lain hanya untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan seperti  TV layar datar. Suatu adegan yang biasanya bisa anda saksikan di acara WWE Royal Rumble. Akibatnya, banyak para pembeli terluka, dan di banyak kota lain, polisi dipanggil ke toko-toko untuk membatasi para zombie pemburu barang-barang murah itu.

Era perbudakan adalah suatu bab yang kelam dalam sejarah peradaban barat. Walau perbudakan secara fisik tidak terjadi saat ini, penjualan obral dalam Black Friday menjadi saksi bahwa perbudakan psikologis atas harta benda tetap hidup di Inggris dan Amerika Serikat. Para pemilik toko penjual eceran menjadi “pemilik para budak” dalam kasus ini, dan barang-barang yang dijual menjadi hadiahnya. Mereka secara tidak sadar menjadi budak kapitalisme sehingga kehilangan rasionalitas ketika mereka melihat kata-kata “Diskon 50%!” dan “beli satu dapat satu gratis!” yang dipromosikan oleh toko-toko pengecer itu.

 

Asal Muasal Black Friday

Jumat Hitam (Black Friday) adalah hari setelah libur nasional “Thanksgiving” di Amerika-hari untuk mensyukuri panen pada tahun sebelumnya. Hal ini dirayakan pada hari Kamis keempat bulan November di Amerika Serikat dan pada hari Senin kedua bulan Oktober di Kanada. Jumat Hitam singkatnya, adalah awal musim belanja Natal, di mana para pengecer membuka tokonya dengan sangat awal dan menawarkan promosi diskon – obral yang biasanya berlangsung di seluruh “periode perayaan” dan setelahnya. Amazon membawa acara ini ke Inggris pada tahun 2010 dan tahun ini sebagian besar pengecer terbesar di Inggris – Currys, Littlewoods, Asda, Argos, John Lewis dan Tescos menawarkan diskon.

Tapi asal Jumat Hitam adalah tahun 1869 selama krisis keuangan pertama di Amerika Serikat, saat dua orang spekulan – Jay Gould dan James Fisk mencoba untuk mengganggu pasar emas di New York Gold Exchange. Gould dan Fisk menimbun emas dalam jumlah besar sehingga menyebabkan meroketnya harga logam mulia itu dan harga saham menurun. Akibatnya, harga emas ambruk selama era rekonstruksi setelah Perang Saudara Amerika.

Pada dasarnya, istilah “Jumat Hitam” melambangkan skandal politik ketika sistem ekonomi kapitalis Amerika berada di ambang kehancuran. Sejumlah langkah diambil untuk mengatasi krisis ini seperti penjualan gandum massal ke Eropa, dan dugaan penjualan para budak dengan harga yang lebih murah untuk membantu para pemilik perkebunan pulih dari resesi.

Banyak pebisnis pada saat itu yang menggunakan tinta merah untuk menandai kerugian dan tinta hitam untuk menandai keuntungan, sehingga dalam kenyataannya, “Jumat Hitam” adalah ketika kerugian para pengecer toko ‘berubah menjadi keuntungan karena penjualan dengan diskon’.

 

Perbudakan kapitalisme terhadap pikiran

Tidak banyak perbedaan antara konsumen yang hiruk pikuk membeli pada hari ini dengan konsumen pada tahun 1869. Sementara para konsumen mengira mereka menang atas para pengecer, dalam kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya. Rakyat jelata dimanipulasi untuk berpikir bahwa mereka mengambil keuntungan dari apa yang tampaknya menjadi tawaran ‘bodoh’, sehingga membuat kaum ‘proletar’, merasa sebagai pemenang atas harga-harga tinggi yang ditetapkan oleh para pengece ‘borjuis’.

Namun, rasionalitas yang dimiliki oleh orang-orang dalam melaksanakan tugas sehari-hari mereka dan pengambilan keputusan hilang seketika. Mereka berubah menjadi buas dan melakukan adegan seperti para pemain rugby untuk mendapatkan TV HD. Itu tidak lain karena  mereka telah dikuasai oleh pemikiran yang menempatkan materi dan kesenangan di atas segalanya. Adegan dari penjualan Jumat Hitam adalah contoh perilaku tidak beradab dan primitif yang diciptakan oleh kapitalisme.

Pemisahan agama dari kehidupan serta tolak ukur kebahagiaan untuk mendapatkan kesenangan jasmani menjadi paradigma dasar masyarakat liberal sekuler di Barat. Itu menjadikan mereka menjalani hidup untuk kesenangan materi belaka. Tidak aneh jika mereka dijajah oleh kekayaan dan harta benda.

Pengejaran yang tidak pernah berakhir untuk mendapatkan kesenangan duniawi bisa mempengaruhi kita semua. Dan hal itu dipengaruhi oleh ideologi dominan dari masyarakat di mana kita tinggal, yaitu Kapitalisme.

Agak ironis bagaimana pikiran kita bisa diindoktrinasi untuk diarahkan kepada fashion, hiburan dan bahkan makanan dalam masyarakat yang membanggakan diri dalam kebebasan memilih. Realitas yang kita tidak sadari sebenarnya adalah berdirinya peradaban yang melestarikan perbudakan manusia melalui barang-barang bermerek dan tren yang diinginkan. Memang kapitalisme adalah pelanggaran serius atas akal dan gangguan besar untuk benar-benar bisa berpikir secara mandiri dan membebaskan diri.

Akankah kita menjual pikiran dan rasionalitas hanya untuk mendapatkan barang-barang setengah harga ?

 

Diolah dari berbagai sumber


Tags:

black friday

kapitalisme

perbudakan


Similar posts