Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita Tanggung

Written by administrator   // August 16, 2011   // 0 Comments

gold1

Oleh Edmund Conway

Pada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) – meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.

Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.

Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga nilai mata uang agar sejalan dengan emas.

Itu adalah salah satu perkembangan yang maknanya secara bertahap awalnya jelas, kemudian tidak jelas saat Perang Vietnam dan kemudian terjadi Skandal Watergate. Tapi semakin seseorang mengamati sejarah ekonomi, semakin jelas terlihat bahwa ini adalah salah satu keputusan kebijakan terpenting dalam sejarah modern.

Kalau bukan karena keputusan itu, akan sangat mungkin bahwa kita tidak akan sedemikian menderita dalam krisis keuangan pada empat tahun terakhir ini; atau juga krisis demi krisis yang melanda pasar dunia. Kita mungkin tidak menghadapi pasar yang paling bergejolak selama beberapa minggu sejak tahun 2008.

Bukanlah Karena rezim Bretton Woods yang berlaku sebelumnya itu sempurna, yakni di mana mata uang di seluruh dunia juga dipatok dengan emas, lewat dolar .

Malahan hal ini jauh dari sempurna. Tapi memahami masalah dengan sistem moneter internasional yang tidak sempurna yang kita warisi dari Presiden Nixon dapat membantu mencerahkan kita pada begitu banyak masalah-masalah fundamental ekonomi dunia yang dihadapi:  Misalnya, Mengapa Barat meminjam begitu banyak uang dan Timur menyimpannya secara berlebihan? Mengapa kita tampaknya akan kalah dalam peperangan dengan inflasi? Mengapa proteksionisme meningkat lagi?

Mari kita mulai dengan prinsip pertama: selama yang bisa orang ingat, para politisi telah berusaha untuk menghabiskan lebih dari yang mereka mampu. Sejak ditemukannya uang, mereka telah menemukan cara yang lebih cerdik untuk melakukannya.

Serangan-serangan atas penurunan mata uang ini biasanya berakhir dengan bencana, karena keprcayaan yang hilang atas mata uang, inflasi mulai muncul dari atas atap dan ekonomi mulai runtuh, setelah itu para politisi memperkenalkan sistem baru yang lebih kredibel.

Metode awal yang dilakukan adalah mengurangi nilai mata uang (debasing currency). Henry VIII mendapat julukannya sebagai “Old Coppernose” karena ia menambahkan tembaga (copper) begitu banyak pada apa yang seharusnya untuk koin perak sehingga akhirnya ketika terkikis tembaga itulah yang pertama kali akan terlihat pada permukaannya yang paling tinggi yakni pada gambar hidung (nose) sang raja .

Setelah kepercayaan atas koin emas dan perak menguap, kita memiliki standar emas dan kemudian Bretton Woods dan sistim yang sekarang , pada hari ini, yakni fiat money- tetapi hal yang rutin terjadi adalah hal yang menyakitkan. Perbedaan utama dengan fiat money adalah bahwa kalau dengan standar emas semuanya terlalu jelas ketika para politisi menghabiskan uang diluar kemampuannya (karena mereka hanya akan kehabisan cadangan emas), maka pada saat ini menjadi sedikit lebih sulit untuk mengatakan seberapa dekat sistem ini akan rusak.

Meskipun demikian, seperti yang kita lihat kembali pada kekacauan yang terjadi pada beberapa minggu terakhir adalah cukup jelas bahwa versi masalah yang kita hadapi saat ini adalah sistim ini berdiri pada kakinya yang terakhir. Hal ini, pada dasarnya, adalah titik yang dibuat Sir Mervyn King yang mencoba untuk melakukan konperensi lagi dan lagi tentang Laporan Inflasi pers minggu lalu: tahun 2008 hanyalah satu tahap dalam krisis kepercayaan yang jauh lebih besar dalam cara kita menyusun ekonomi dunia.

Selama 40 tahun terakhir, dengan tidak adanya sistem moneter internasional yang masuk akal dan berada di bawah selubung mata uang mengambang (floating currencies), negara-negara yang seharusnya dihukum karena melakukannya hal itu malah diizinkan untuk meminjam uang dalam jumlah besar (seperti AS dan Inggris, atau Yunani). Negara-negara lain (misalnya Cina atau Jerman) dimanjakan dengan diberikan sejumlah besar pinjaman. Sementara itu, investor meyakinkan diri mereka sendiri bahwa pertumbuhan ekonomi yang jelas didorong oleh utang ini adalah yang sebenarnya dan bukan produk buatan dalam suatu pesta.

Krisis 2008 merupakan pengakuan pertama bahwa kenaikan pada harga asset-aset dan pertumbuhan ekonomi adalah masuk akal. Kejadian yang terulang baru-baru ini merupakan pengakuan bahwa kerugian hanya dipindahkan kepada neraca penguasa.

Tapi apa yang terjadi berikutnya? Jawaban Panglossian adalah bahwa ketidakseimbangan secara perlahan tapi pasti menempatkan haknya: negara-negara berhutang meminjam lebih sedikit dan membayarkanya pada kreditor. Tapi jarang ada negara-negara yang melakukannya dengan hati-hati: apa yang tampaknya malahan muncul adalah krisis tahap berikutnya yang merupakan krisis kepercayaan terhadap sistim yang terletak pada kepercayaan dan bukannya pada ukuran yang pasti, yang memiliki cara yang bisa diandalkan untuk dapat memperbaiki dirinya sendiri.
Jadi apakah kita mendekati akhir era ekonomi? Semua ciri khasnya memang dimiliki. Kita sudah melewati periode kepercayaan pada system ini, yang memuncak dengan kepercayaan tertentu pada tahun 1990-an dan awal 2000-an bahwa target inflasi benar-benar akan membantu menjaga pemerintah agar tetap stabil.

Dan kita sudah mengalami krisis keuangan yang biasanya menandai awal dari berakhirnya sistem moneter yang mapan. Dan sekarang kita melihat penurunan nilai tersebut.

Perhatikanlah harga emas, yang baru-baru memasuki skala tertinggi baru. Sejak tahun 1970-an harga emas per ons telah meningkat dari mulai di bawah $ 40 hingga secara menakjubkan menjadi $ 1740 . Harga itu mencerminkan banyak faktor, termasuk pertumbuhan ekonomi, namun yang terutama dari factor itu adalah kepercayaan yang menurun pada kemampuan fiat money untuk mempertahankan nilainya.

Abaikanlah lonjakan harga minyak dan fluktuasi ringan yang terjadi dari waktu ke waktu: bukanlah secara kebetulan bahwa harga benar-benar mulai menusuk (dengan kata lain kepercayaan pada mata uang versus jatuhnya harga emas) pada tahun 2001, yang merupakan tahun dimana Bank Sentral pertama kali mulai bereksperimen dengan Pelonggaran Kuantitatif (Quantitative Easing -QE) – di Jepang.

Bahwa harga telah mencapai rekor tertinggi saat Bank of England dan Federal Reserve mengikutinya dengan cara baru-baru ini mencetak uang untuk memperkuat hal ini. Bahkan Bank Sentral Eropa yang sekarang berada satu langkah lebih dekat menuju QE (membawa kepada apa yang Sir Mervyn sebut sebagai “batas terluar dari apa yang bisa dilakuan Bank Sentral”) yakni dengan menyetujui untuk menanggung hutang Spanyol dan Italia.

Tidak ada keraguan bahwa emas ada dalam sebuah gelembung, tetapi semua gelembung itu dimulai dengan benih ide yang baik, yang dalam hal ini adalah bahwa sistem sekarang ini yang menjalankan perekonomian dunia mendekati kerusakan. Akan merupakan hal bagus untuk percaya bahwa para pembuat kebijakan bisa mencari dan menemukan jalan keluar dari keadaan mereka dari keadaan kacau saat ini tanpa lebih lanjut menurunkan mata uang mereka, tetapi, setidaknya secara politik, itulah yang selalu merupakan jalan keluar yang mudah.

Sayangnya, menurunnya mata uang adalah semacam hal yang kompetitif, saat berbagai negara bersaing untuk mengurangi nilai dari uang mereka (dan karenanya mengurangi hutang mereka). Telah ada pembicaraan mengenai “perang mata uang” dalam beberapa tahun terakhir, tapi hal ini tidak ada artinya dibandingkan dengan devaluasi kompetitif dan proteksionisme pada tahun 1930-an ketika perang antar standar emas berakhir. Namun, preseden itu tidak menyenangkan.

Seperti yang terlihat pada hari ini, harapan apapun, hal ini terletak pada Cina. Negara itu secara cepat menyadari bahwa investasinya dalam mata utang AS tidak akan terlunasi penuh.

Namun, dalam jangka panjang negara itu memiliki dua pilihan: untuk membiarkan Amerika untuk mengurangi nilai mata uang dolar atau default, atau melakukan negosiasi, “memaafkan” sebagian hutang itu dan secara dramatis mengurangi ketidakseimbangan tersebut.

Secara ekonomi, negara itu mampu melakukannya, tapi apakah ia mampu melakukannya secara politis adalah pertanyaan lain. Namun demikian, langkah berani seperti itu (dan saya tidak berharap akan terjadi dalam waktu dekat) setidaknya hal ini akan menandai gerakan ekonomi yang tepat yang akan membantu membangun sistem moneter internasional mendatang. (rza)

======================

Glossary

Fiat money adalah adalah uang yang memiliki nilai hanya karena regulasi pemerintah atau hukum.

Sistem Manajemen Moneter Bretton Woods mendirikan aturan bagi hubungan komersial dan finansial antara negara-negara besar dunia industry pada pertengahan abad ke-20.

QE yakni Quantitative Easing atau Pelonggaran Kuantitatif (QE) adalah kebijakan moneter konvensional yang digunakan oleh bank sentral untuk merangsang perekonomian nasional ketika kebijakan moneter konvensional telah menjadi tidak efektif.

sumber: Telegraph.co.uk (13/8/2011)


Similar posts