Menimpakan Risiko Bisnis Kepada Pihak Lain

Written by administrator   // June 16, 2011   // 0 Comments

bisnnis

Firman Allah SWT (artinya) :

 

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Al-Ahzab : 58)

 

Yang dimaksud “menyakiti mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat” (bi-ghairi ma iktasabuu), adalah menisbatkan suatu perbuatan kepada mu’min dan mu’minat, padahal mereka tidak pernah melakukan perbuatan itu. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz VI hal. 480).

Dengan demikian, keumuman makna ayat di atas dapat diterapkan pada kasus yang ditanyakan, yakni adanya tindakan berisiko oleh satu pihak yang menimbulkan kerugian, tapi tanggung jawab kerugian ini justru dipikul oleh pihak lain yang tidak melakukan tindakan berisiko tersebut.

Tindakan seperti ini haram hukumnya, karena sesuai lafazh ayat tersebut, ini merupakan suatu kebohongan (buhtan) dan dosa yang nyata (itsmun mubin).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tidak boleh menimbulkan suatu bahaya bagi diri sendiri ataupun bahaya bagi orang lain.” (Arab : laa dharara wa laa dhiraara) (HR Ibnu Majah no 2332, Ahmad no 2719, Ath-Thabrani no 1370). Hadis sahih (Lihat Nashiruddin al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, Juz I hal. 249).

 

Hadis ini merupakan dalil yang bermakna umum, yakni mengharamkan segala bentuk dharar (bahaya), baik bahaya bagi sendiri (dharar) maupun bahaya bagi orang lain (dhirar). Keumuman hadis ini dikarenakan lafazh “dharar” datang dalam bentuk isim nakirah (indefinite noun) yang terletak dalam struktur kalimat negasi. (M. Husain Abdullah, Mafahim Islamiyah, Juz II hal. 60; Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, hal. 314).

 

Keumuman hadis ini dapat diterapkan juga pada kasus yang ditanyakan, karena tindakan menimbulkan kerugian yang dipikul oleh pihak lain termasuk dalam lafazh “dhirar” dalam hadis tersebut. “Dhirar” artinya menimbulkan bahaya bagi orang lain (iiqaa’u adh-dharar bil akharin), termasuk di antaranya bahaya finansial (kerugian). Tindakan seperti ini diharamkan dalam Islam karena telah dinafikan oleh hadis Rasulullah SAW ini. Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 8 Oktober 2009

Muhammad Shiddiq Al Jawi


Tags:

carousel


Similar posts