Mata uang 12 negara bakal kian tersungkur

Written by BoniShall   // August 25, 2015   // Comments Off

rupiah-dollar

Bak bola salju, keputusan Pemerintah China mendevaluasi yuan menggelinding cepat dan h menghempaskan nilai tukar mata uang negara lain. Tenge Kazhkhstan yang paling parah terkena dampak dari devaluasi yuan. Bloomberg melaporkan bakal ada 11 mata uang lain yang mengikuti jejak tenge.

Tenge Kazakhstan sejatinya sudah tergerus dalam sejak awal tahun ini. Tapi, Kamis (20/8) pekan lalu menjadi puncak pelemahan tenge Kazakhstan sepanjang tahun ini, setelah bertengger di posisi 252,4 tenge per dollar Amerika Serikat (AS). Itu berarti, tenge melemah 38,41% sejak awal 2015. Untunglah, Jumat (21/8) lalu, tenge kembali sedikit menguat ke 234,99.

Memang, negara yang terkena efek parah pelemahan yuan secara sengaja oleh Pemerintah China pada 11 Agustus 2015 lalu adalah negara-negara bekas Uni Soviet seperti Kazakhstan. Sebab, negara di Asia Tengah itu tak hanya kena efek devaluasi yuan, juga harus menghadapi pelemahan rubel Rusia. Tak ayal, depresiasi rubel menempatkan mereka dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam perdagangan dengan Rusia.

Gavin Serkin, penulis Frontier, saat di wawancara Bloomberg, menyatakan, ada 11 mata uang yang berpotensi mengalami pelemahan dalam seperti tenge Kazhkhstan.

Pertama, riyal Arab Saudi. Negara pengekspor minyak terbesar di dunia ini memang punya cadangan devisa yang masih besar, mencapai US$ 672 miliar. Arab Saudi juga memiliki kemampuan menahan pasar. Tapi, pelemahan harga minyak mentah dunia ke level terendah dalam tujuh tahun terakhir bakal membuat riyal semakin terpuruk.

Kedua, manat Turkmenistan. Bangsa yang juga pengekspor minyak ini mempunyai hubungan ekonomi yang dekat dengan Rusia. Pada Januari 2015, Turkmenistan telah mendevaluasi mata uangnya 19%. Bahkan, manat berpotensi melemah 20% dalam enam bulan ke depan.

Ketiga, somoni Tajikistan. Negara Asia Tengah ini punya hubungan dagang yang dekat dengan Kazakhstan. Nilai ekspor Tajikistan sebanyak 11% di antaranya berasal dari Kazakhstan. Itu sebabnya, somoni Tajikistan berpotensi terdepresiasi 10%–20%.

Keempat, dram Armenia. Mata uang negara pecahan Uni Soviet ini sudah melemah 15% dalam 12 bulan. Dram terus melemah lantaran seperempat perdagangan Armenia menuju ke Rusia. Padahal, rubel telah melemah 46% dalam 12 bulan terakhir.

Kelima, som Kyrgyzstan. Hubungan antara Kyrgyzstan dan Kazakhstan juga dekat dalam perdagangan. Alhasil, som bakal terus tertekan.

Keenam, pound Mesir. Negeri Piramida ini memang membatasi akses investor terhadap mata uang asing sejak tahun 2011 lalu. Para pedagang mata uang pun memproyeksikan, pound Mesir akan melemah sekitar 22% dalam setahun ke depan.

Ketujuh, lira Turki. Nilai tukar lira terhadap dollar AS terus melemah sejak China mendevaluasi mata uangnya pada 11 Agustus 2015. Bahkan, Rabu (19/8) pekan lalu, lira melemah 25,65% sejak awal tahun ke posisi 2,9254 per dollar AS. Ini adalah pelemahan lira paling dalam. Tapi, Jumat (21/8), lira menguat di  2,3281 per dollar AS.

Kedelapan, naira Nigeria. Para pembuat kebijakan di negara pengekspor minyak ini memang menahan naira untuk menjaga perdagangan. Karena itu, ke depan mata uang negara Afrika tersebut bakal jatuh lebih dalam 20% terhadap dollar AS selama setahun.

Kesembilan, cedi Ghana. Negara Afrika yang juga eksportir minyak ini memiliki masalah fiskal, kenaikan inflasi, dan utang yang terus meningkat. Kondisi ini semakin memperlemah cedi.

Kesepuluh, kwacha Zambia. Kwacha kena efek pelemahan yuan karena 70% ekspor tembaga Zambia ke China.

Kesebelas, ringgit Malaysia. Mata uang negeri jiran melemah ke level terendah dalam 17 tahun terakhir, Kamis (20/8) pekan lalu. Akibatnya, cadangan devisa Malaysia merosot di bawah US$ 100 miliar untuk pertama kali sejak tahun 2010 lalu. (kontan.co.id)


Tags:

inflasi

investasi

matra uang


Similar posts