Larangan Menimbun Emas Dan Perak

Written by administrator   // February 1, 2013   // Comments Off

setapak dinar emas

Bahwa fenomena bobroknya sirkulasi kekayaan di antara individu di berbagai negara adalah realitas yang nyata, yang berlaku dalam seluruh realitas kehidupan sehari-hari, dengan jelas dan gamblang, yang tidak perlu banyak argumentasi lagi. Begitu pula kesenjangan yang lebar, yang dialami oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tidak perlu lagi dijelaskan ketajaman dan ke-absurd-annya.

Orang-orang Kapitalis telah berusaha memecahkan problem tersebut, tetapi tidak berhasil. Para ahli ekonomi Kapitalis ketika membahas teori tentang distribusi pendapatan, begitu mengabaikan buruknya distribusi pendapatan personal, bahkan mereka hanya memaparkan perhitungan-perhitungan tanpa memberikan solusi dan komentar sedikitpun. Begitu pula orang-orang Sosialis. Mereka tidak menemukan cara untuk memecahkan buruknya distribusi tersebut, selain membatasi hak milik dengan cara memberangus hak milik tersebut. Dan orang-orang Sosialis akhirnya memberikan solusi dengan cara melarang hak milik tersebut. Sementara Islam, justru telah menjamin distribusi tersebut dengan baik, yaitu dengan menentukan tata cara pemilikan, tata cara memanage pemilikan, serta mensupplay orang yang tidak sanggup mencukupi kebutuhan-kebutuhannya, dengan harta yang bisa menjamin hidupnya sebanding dengan sesamanya dalam suatu masyarakat (society), untuk mewujudkan kesetaraan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di antara sesamanya. Dengan demikian, Islam telah memecahkan buruknya distribusi tersebut.

Akan tetapi, meskipun ada kesetaraan dalam memenuhi kebutuhan antara individu, namun kadang-kadang masih ada kekayaan yang berjumlah besar pada beberapa orang. Islam memang tidak mengharuskan adanya kesetaraan di antara manusia dalam hal pemilikan, namun Islam mengharuskan adanya ketidaktergantungan masing-masing orang terhadap orang lain, dalam masalah kebutuhan-kebutuhannya yang ma’ruf menurut ukuran orang yang bersangkutan. Sebda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah dari orang yang kaya.” (H.R. Imam Bukhari). Kekayaan yang berjumlah besar ini akan mendorong pemiliknya berkesempatan untuk menyimpan, serta membantu meperoleh pendapatan yang besar, sehingga kekayaan yang berjumlah besar tersebut tetap ada, ketika harta yang banyak itu masih ada. Karena harta itulah yang akan menghasilkan harta, meskipun tenaga mempunyai pengaruh dalam menghasilkan kekayaan dan memberi kesempatan untuk mengeksploitasi harta. Namun, dari kekayaan yang berjumlah besar tersebut tidak akan membawa ancaman bagi ekonomi, malah sebaliknya akan meningkatkan kekayaan yang bersifat ekonomi suatu jama’ah, sebagaimana kekayaan tersebut telah meningkatkan kekayaan individu. Namun, ancaman tersebut justru muncul dari uang yang ditimbun pada segelintir orang yang memiliki kekayaan dalam jumlah besar tersebut, sehingga dengan banyaknya uang tersebut akan menyebabkan turunnya tingkat pendapatan, serta menimbulkan pengangguran, lalu banyak orang akan menjadi fakir. Oleh karena itu, penimbunan uang tersebut harus dipecahkan.

Uang adalah alat tukar (medium of exchange) antara harta yang satu dengan harta yang lain, antara harta dengan tenaga, serta antara tenaga yang satu dengan tenaga yang lain. Jadi, uang adalah satuan hitung (unit of account) dalam pertukaran. Apabila uang tersebut ditarik dari pasar, dan tidak bisa diperoleh oleh manusia, maka pertukaran tersebut tidak akan berlangsung, dan roda perekonomian pun akan terhenti. Dengan terpenuhinya alat tukar (medium of exchange) ini di tangan manusia –dengan kadar berapapun– maka akan mendorong laju perjalanan aktivitas menuju ke garda depan.

Hal itu karena tidak ada sumber pendapatan (income) satu orang atau lembaga pun, selain dari orang lain atau lembaga lain. Harta yang dikumpulkan oleh negara dari hasil pajak, adalah pendapatan negara, namun harta tersebut merupakan pengeluaran orang lain. Belanja yang dikeluarkan oleh negara untuk para pegawai dan beberapa proyek, serta gaji para tentara dan lain-lain adalah pendapatan (income) bagi mereka, dan bagi negara itu merupakan pengeluaran. Sedangkan pengeluaran yang dikeluarkan oleh pegawai, tentara dan yang lain, adalah pendapatan bagi orang yang menjual barang kepada mereka, misalnya bagi pemilik rumah, penjual daging, sayur-mayur, pedagang dan sebagainya, dan begitu seterusnya. Maka, pendapatan dan pengeluaran manusia secara global dalam masyarakat tadi akan berjalan secara terus-menerus. Apabila salah seorang telah menyimpan uang, maka orang yang bersangkutan hakikatnya telah menarik uang dari pasar, sementara tindakan semacam ini pasti tidak akan terjadi, kecuali karena minimnya jumlah pengeluaran orang yang bersangkutan, sehingga secara pasti akan menyebabkan minimnya jumlah pendapatan orang lain, yang diberi sedikit uang yang dia simpan atau yang dia ajak melakukan pertukaran. Hal itu kemudian berakibat pada minimnya jumlah produksi mereka. Sebab permintaan akan barang tersebut menjadi sedikit, lalu akan mengakibatkan pengangguran (employment), serta menurunnya tingkat perekonomian secara makro. Dari sinilah, maka penimbunan uang tersebut secara pasti akan mengakibatkan adanya pengangguran (employment), serta menurunkan tingkat perekonomian karena minimnya pendapatan masyarakat.

Hanya saja yang harus diketahui adalah, bahwa ancaman ini sesungguhnya hanya muncul akibat adanya penimbunan (kanz) uang, bukan akibat adanya penyimpanan (idkhar) uang. Sebab penyimpanan uang tersebut tidak akan menghentikan roda aktivitas perekonomian, namun penimbunanlah yang justru menghentikannya. Perbedaan antara penimbunan dengan penyimpanan adalah, bahwa kalau penimbunan berarti mengumpulkan uang satu dengan uang yang lain tanpa ada kebutuhan, dimana penimbunan tersebut akan menarik uang dari pasar. Sementara penyimpanan uang adalah menyimpan uang karena adanya kebutuhan, semisal mengumpulkan uang untuk membangun rumah, untuk menikah, membeli pabrik, membuka bisnis, ataupun untuk keperluan yang lain. Bentuk pengumpulan uang semacam ini tidak akan mempengaruhi pasar, dan tidak akan mempengaruhi roda aktivitas perekonomian, sebab tindakan tersebut bukan merupakan tindakan menarik uang, namun mengumpulkan uang untuk dibelanjakan, dimana uang –yang dikumpulkan– tersebut akan beredar kembali ketika disalurkan untuk obyek pembelanjaanya. Oleh karena itu, tidak ada ancaman yang ditemukan dari penyimpanan tadi. Dimana, penyimpanan tadi terjadi hanya semata-mata karena adanya penimbunan uang, yaitu mengumpulkan uang yang satu dengan uang yang lain tanpa ada maksud apapun.

Islam membolehkan menyimpan emas dan perak, sebab penyimpanan tersebut merupakan tindakan mengumpulkan uang untuk suatu kebutuhan. Sehingga Islam membolehkan bagi budak mukatabuntuk bekerja keras lalu mengumpulkan uangnya, antara satu dengan yang lain, untuk dibayarkan kepada tuannya sebagai tebusan untuk memerdekakan dirinya. Islam juga membolehkan seseorang mengumpulkan uang, yang satu dengan yang lain, untuk membeli mahar untuk wanita yang akan dinikahinya. Islam membolehkan pula mengumpulkan uang, antara yang satu dengan yang lain sehingga bisa menunaikan kewajiban ibadah haji. Dan Islam tidak menjadikan uang yang terkumpul dari emas dan perak tadi, selain ada zakatnya, bila jumlahnya telah mencapai 1 nishab dan sudah tiba 1 tahun.

Pada saat ayat tentang larangan menimbun emas dan perak tersebut turun, zat emas dan perak ketika itu menjadi alat tukar (medium of exchange) serta satun hitung (unit of account) tenaga yang terdapat dalam pekerjaan, dan standar manfaat yang terdapat pada harta, baik alat tersebut dalam bentuk cetakan, semisal dirham dan dinar, ataupun tidak dalam bentuk cetakan, semisal batangan. Atas dasar inilah, maka larangan tersebut ditujukan untuk emas dan perak dalam kedudukannya sebagai medium of exchange.

Sedangkan menimbun emas dan perak itu telah diharamkan oleh Islam dengan nash Al Qur’an yang tegas. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa meraka akan mendapat) siksa yang pedih.”(Q.S. At Taubah: 34)

Ancaman dengan azab yang pedih bagi orang yang menimbun emas dan perak ini merupakan bukti yang tegas, bahwa As Syari’ telah menuntut untuk meninggalkan tindakan menimbun tersebut, dengan tuntutan yang tegas, sehingga menimbun emas dan perak hukumnya haram.

Bukti bahwa ayat tersebut telah mengharamkan menimbun emas dan perak dengan keharaman yang tegas adalah:

Pertama:dari keumuman ayat tersebut. Nash Ayat tersebut –baik secara tekstual (manthuq) maupun kontekstual (mafhum)– menjadi dalil adanya larangan menimbun harta dari emas dan perak dengan larangan total. Maka, orang yang tetap berpegang pada kemubahan menimbun harta setelah zakatnya dikeluarkan, tentu telah meninggalkan hukum ayat ini, dimana ayat ini menunjukkan dengan tegas. Ini tidak mungkin, kecuali dengan adanya dalil yang lain, yang bisa memalingkan dari makna ayat tersebut, atau bisa menghapus makna ayat tadi. Padahal, tidak terdapat satu nash shahih pun yang bisa memalingkan dari makna ayat tersebut, juga tidak ada satu dalil pun yang bisa memalingkannya dari makna tersebut. Sebab, makna ayat tersebut bersifat qath’i, sehingga tidak ada makna lain selain adanya dalil yang menghapusnya. Padahal, tidak ada satu dalil pun yang menghapusnya. Sementara ayat:

“Ambillah dari harta mereka sedekah (zakat) agar (dengan zakat itu) bisa membersihkan mereka.”(Q.S. At Taubah: 103)

Ayat ini diturunkan pada tahun ke-3 hijrah pada saat ibadah zakat difardlukan, sementara ayat tentang penimbunan tadi diturunkan pada tahun ke-9 hijriyah, sehingga ayat yang terdahulu tidak bisa menghapus ayat yang turun kemudian. Sedangkan hadits-hadits yang menyatakan, bahwa zakatnya tidak perlu dikeluarkan adalah hadits yang tidak berhubungan dengan penimbunan, sehingga tidak layak untuk menjadi dalil selain satu hadits, yaitu hadits dari Ummu Salamah, yang telah diriwayatkan oleh Imam Ad Daruquthni dan Abu Dawud, sedangkan hadits-hadits lain yang diriwayatkan tentang bab ini, selain hadits tersebut, semuanya adalah dusta, yang cacat dari segi dirayah (isi) dan dari segi riwayat (sumber hadits)-nya, yaitu dari segi sanad (sumber hadits) dan matan (teks hadits). Sedangkan hadits dari Ummu Salamah sendiri sebenarnya tidak layak untuk menasakh ayat tersebut, meskipun –kelau seandainya– hadits tersebut derajatnya mutawatir. Sebab, hadits Nabi tidak bisa menasakh Al Qur’an, meskipun hadits tersebut derajatnya mutawatir. Sebab, Al Qur’an dari segi lafadznya adalah qath’i sumbernya, dan kita dinilai ibadah dengan membaca lafadz dan makna tersebut. Berbeda dengan hadits mutawatir, sebab hadits mutawatir tersebut dari segi maknanya, memang qath’i tsubut (sumbernya pasti), sedangkan dari segi lafadznya tidak pasti, dan kita pun tidak dinilai beribadah dengan membaca lafadznya, sehingga Al Qur’an tidak bisa dihapus dengan hadits, meskipun hadits tersebut derajatnya mutawatir. Lalu bagaimana mungkin hadits ahad seperti hadits Ummi Salamah tersebut, bisa menasakh ayat yang qath’isumber dan maknanya?

Kedua: At Thabari di dalam tafsirnya menyandarkan kepada Abi Umamah Al bahili yang mengatakan: Ada seorang dari ahlis shuffah lalu di dalam kain penutup badannya terdapat 1 dinar, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Sekali cos.” Kemudian yang lain meninggal, lalu ditemukan di dalam kain penutup badannya terdapat 2 dinar, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Dua kali cos.” Ini karena kedua orang tersebut hidup dari hasil sedekah, sementara mereka berdua mempunyai kepingan uang. Sementara 1 dan 2 dinar tersebut belum mencapai 1 nishab sehingga zakatnya harus dikeluarkan. Adapun pernyataan Rasul terhadap mereka berdua: “Celaka, dan dua kali celaka.” adalah dalil, bahwa beliau menganggap keduanya telah melakukan penimbunan, meskipun keduanya tidak wajib membayar zakatnya. Inilah yang menjelaskan ayat penimbunan tersebut:

“Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.”(Q.S. At Taubah: 35)

Ketiga: nash Al Qur’an tersebut memberi ancaman kepada dua perkara: pertama, menimbun harta, dan kedua, tidak menafkahkan harta di jalan Allah, yaitu orang-orang yang menimbun emas dan perak, serta orang-orang yang tidak menafkahkan harta tersebut di jalan Allah, maka nash tersebut mengancam mereka dengan azab. Dari nash ini jelaslah, bahwa orang yang tidak menimbun namun tidak mau menafkahkan hartanya di jalan Allah, maka orang tersebut terkena ancaman, begitu pula orang yang menimbun hartanya, meskipun dia menafkahkan hartanya di jalan Allah, maka orang tersebut tetap terkena ancaman. Imam Al Qurthubi mengatakan: “Apabila seseorang tidak menimbun, namun dia tidak mau berinfaq di jalan Allah, maka pasti ia termasuk di dalamnya.” Makna ayat: “Fi Sabilillah.” (di jalan Allah), bila dikaitkan dengan infaq, maka maknanya adalah jihad. Dimana, Al Qur’an menyatakan hanya dengan makna ini saja, sehingga tidak satu pun kata: “Fi Sabilillah.”dinyatakan di dalam Al Qur’an yang bersamaan dengan kata infaq, selain bermakna jihad.

Kempat: Imam Bukhari meriwayatkan dari zaid Bin Wahab yang mengatakan: “Aku berpapasan dengan Abu Dzar di Rubdah, kemudian aku bertanya: ‘Apa yang menyebabkan engkau turun di daerah?’ Dia menjawab: ‘Kami berada di Syam.’ Kemudian aku membaca: ‘Walladzina Yaknizunadz Dzahaba Wal Fidhata Wala Yunfiqunaha Fi Sabilillah, Fa Basysyirhum Bi Adzabin Alim (Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka sampaikan kepada mereka azab yang pedih).’ Mu’awiyah berkata: ‘Ini bukan untuk kita. Dan hanyalah untuk Ahli Kitab.’ Kemudian dia (Abu Dzar) berkata: ‘Ini sungguh berlaku untuk kita dan mereka.’” Ibnu Jarir meriwayatkan hadits dari Abdullah Bin Al Qasim dari Hushain dari Zaid Bin Wahab dari Abu Dzar: “Maka, dia (Abu Dzar) mengingatkannya (Mu’awiyah) dan terus mengingatkan: ‘Dalam hal ini antara aku dan dia saling bersikeras. Kemudian dia menulis surat kepada Utsman untuk mengadukan aku. Lalu, Utsman mengirim surat kepadaku agar aku menghadapnya (Utsman).’ Dia (Abu Dzar) berkata: ‘Aku lalu menghadap kepadanya. Ketika aku sampai di Madinah, orang-orang pada mengikuti aku, seakan-akan mereka sebelumnya belum pernah melihat aku. Lalu aku mengadukan hal itu kepada Utsman. Dia berkata kepadaku: ‘Menyingkirlah sebentar.’ Kemudian aku berkata: ‘Demi Allah, aku tidak pernah menuduh sebagaimana yang pernah aku katakan (sebelumnya).’” Perbedaan antara Abu Dzar dan Mu’awiyah tersebut, hanya semata-mata kepada siapa ayat ini diturunkan, bukan pada maknanya. Meskipun ketika itu ada satu hadits yang diriwayatkan yang menceritakan tentang tidak dikeluarkannya zakat itu tidak termasuk penimbunan, yang telah dijadikan alasan oleh Mu’awiyah serta menjadi alasan diamnya Abu dzar. Yang tepat, hadits-hadits tersebut dibuat setelah peristiwa Abu Dzar –dengan Mu’awiyah– tersebut. Padahal, hadits-hadits telah ditetapkan, bahwa semuanya bukanlah hadits yang shahih.

Kelima: penimbunan, dari segi bahasa, adalah mengumpulkan harta antara sebagian dengan sebagian yang lain, serta menyimpannya. Harta yang ditimbun maknanya adalah harta yang dikumpulkan. Jadi, penimbunan itu adalah segala sesuatu yang dikumpulkan antara satu dengan yang lain dalam perut bumi, ataupun di luar perut bumi. Al Qur’an sendiri, kalimat-kalimatnya bisa ditafsirkan dengan menggunakan makna bahasanya saja, kecuali apabila dinyatakan dari syara’ adanya makna kalimat-kalimat tersebut, maka ketika itu baru ditafsirkan dengan makna syar’i. Kata kanz(menimbun) tersebut tidak layak dinyatakan dengan makna syar’i apapun yang dipergunakan untuk menjelaskan kata tersebut, sehingga kata tersebut harus ditafsirkan dengan makna bahasanya saja, yaitu semata-mata mengumpulkan harta, antara sebagian harta dengan sebagian harta lain, tanpa adanya suatu kebutuhan ketika mengumpulkannya, maka mengumpulkan harta semacam ini termasuk penimbunan yang dicela, yang pelakunya telah diancam oleh Allah dengan azab yang pedih.

(dikutip dari buku Nidzham Iqtishad fil Islam, karya al-Allamah Syaikh Taqiyudin an-Nabhani hlm. 251)


Similar posts