Kembali ke Dinar Layak Dipertimbangkan

Written by administrator   // June 16, 2011   // 0 Comments

33c1xcn_th

Krisis finansial yang tengah melanda perekonomian dunia saat ini telah mengimbas banyak pihak, termasuk Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, banyak kalangan yang menginginkan sistem perekonomian yang berbeda daripada yang saat ini sedang berlangsung. Beberapa pihak, khususnya yang berlatar berlakang ekonomi Islam, mengajukan gagasan untuk kembali pada penggunaan emas dan perak sebagai mata uang. Salah satu pertimbangan utamanya adalah karena nilai tukar mata uang emas (Dinar) dan perak (Dirham) relatif stabil. Harga seekor kambing, misalnya, tetap 1 Dinar, sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini. Bandingkan hal ini dengan fluktuatifnya mata uang konvensional seperti rupiah yang kita pakai sehari-hari. “Hanya” semenjak 29 tahun yang lalu, harga seekor kambing sampai saat ini telah melonjak lebih dari 16 kali lipat! Tak heran jika Roy W. Jastram dari University of California at Berkeley (AS) mengakui bahwa mata uang emas memang tahan inflasi.

Isu tersebut menjadi pemantik dalam kajian keislaman yang diselenggarakan hari Kamis, 25 Maret 2009 pkl. 16.30-18.00 WIB di MM UGM Kampus Yogyakarta. Kegiatan yang semula bernama Kajian Rutin ini oleh penyelenggaranya, Forum Kajian Intelektual Islami atau FORKIIS, kini diubah namanya menjadi “Oase Sore”. Tampil sebagai pemateri Oase Sore kali ini adalah K.H. Shiddiq al-Jawi, Kepala Pusat Studi Ekonomi Islam STEI Hamfara Yogyakarta yang juga Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia.

Pada pembahasan tentang mata uang Dinar, Ustadz Shiddiq menjelaskan bahwa diukur dari beratnya, 1 keping Dinar setara dengan 4,25 gram emas, dan 1 Dirham = 2,975 gram perak. Rangkaian mata uang ini sudah digunakan oleh bangsa Arab semenjak kehadiran Islam, yaitu pada masa kekuasaan Romawi dan Persia. Ketika Islam mulai tersebar di Jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul pun melakukan pertukaran barang dengan Dinar Romawi dan Dirham Persia. Umat Islam terus menggunakan mata uang warisan zaman dahulu itu sampai kemudian Khalifah Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah mencetak Dirham berpola Islam. Sejak saat itu, Dinar dan Dirham khas Islam terus digunakan selama berabad-abad. Namun pada akhirnya ini berhenti setelah kekhalifahan Islam runtuh pada tahun 1924 M.

Penahbisan Dinar dan Dirham sebagai mata uang Islam bukan tanpa alasan, demikian tegas Ustadz Shiddiq. Selain disandarkan pada hukum yang tertulis dalam Al-Qur’an, Islam juga mengatur beberapa peraturan hukumnya dengan kedua mata uang ini, misalnya mengenai zakat. Islam bahkan juga mengatur hukum tukar-menukar uang. Ustadz Shiddiq lebih lanjut menjelaskan bahwa dalam konteks negara, Islam pada dasarnya tidak mewajibkan penggunaan Dinar dan Dirham sebagai alat tukar antar individu dalam suatu negara. Namun, jika penggunaan mata uang lain terbukti menimbulkan ancaman atau bahaya, maka hukum penggunaan mata uang lain selain Dinar dan Dirham menjadi haram. Contoh bahaya tersebut itu adalah pada penggunaan Dollar AS sebagai alat tukar ekspor-impor. Ketika Dollar bergejolak akan timbul perubahan yang berujung pada kerugian produsen barang-barang ekspor, seperti yang dialami oleh Indonesia. Dalam situasi krisi seperti saat ini, penggunaan Dinar dan Dirham layak untuk kita pertimbangkan.[ ]

Sumber : Oase Sore FORKIIS: “Kembali ke Dinar?” http://www.mmugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=726&lang=indonesian

 


Tags:

carousel


Similar posts