Mengembalikan Kejayaan Dinar

Written by administrator   // June 23, 2011   // 0 Comments

dinar

Banyak orang yang bertanya, jika memang dinar emas merupakan uang riil yang menjaga kekayaan ummat. Bagaimana caranya kembali kepada Dinar sebagai mata uang?

Apabila negara Khilafah berdiri kembali (insya Allah dalam waktu dekat), langkah-langkah praktis untuk menggantikan mata uang yang ada di tengah-tengah kaum Muslim saat ini menjadi dinar dan dirham syar‘î harus memperhatikan beberapa hal. Di antaranya adalah, jumlah uang yang beredar saat itu, harga emas atau perak di dalam maupun di pasar luar negeri, serta ketersediaan dan ketercukupan cadangan emas serta perak untuk mem-back-up penggantian mata uang menjadi dinar dan dirham.

Pada prinsipnya, cadangan emas maupun perak yang dimiliki negara Khilafah saat berdirinya harus mampu mem-back-up penggantian mata uang yang ada di masyarakat. Jika ketersediaan cadangan ini tidak mencukupi, secara praktis penggantian mata uang ini tidak akan berjalan.

Komponen jumlah uang yang beredar di masyarakat pada umumnya dipresentasikan sebagai agregat moneter yang dikenal dengan istilah M1, M2, dan seterusnya. M1 disebut juga dengan uang transaksi, yaitu uang yang benar-benar digunakan dalam bertransaksi, meliputi uang koin/logam (termasuk uang koin yang tidak dipegang bank sentral), uang kertas, dan rekening giro (checking account). Jumlah koin dan uang kertas dinamakan dengan uang kartal (currency), yang biasanya mencakup seperempat atau seperlima dari total M1. Rekening giro ini disebut dengan uang giral (bank money), yaitu dana yang disimpan di bank atau lembaga keuangan. Dengan jenis rekening ini, kita dapat membayar suatu transaksi dengan cara menulis atau menandatangani cek. Semua itu adalah bagian dari M1. Agregat lain yang sering memperoleh perhatian adalah M2, yakni yang disebut dengan uang dalam pengertian luas (broad money). Contohnya adalah simpanan uang yang ada di bank, rekening giro, dan rekening dana yang ada di pasar uang dan dipegang oleh para pialang, deposito di pasar uang yang dikelola oleh bank-bank komersial, dan lain-lain. M2 tidak termasuk uang transaksi, karena tidak dapat digunakan sebagai alat tukar untuk seluruh pembelian. Meskipun demikian, M2 disebut juga dengan near money, karena dapat ditukarkan menjadi uang kontan dalam waktu pendek tanpa kehilangan nilainya. Pada umumnya, M1 dan M2 inilah yang dijadikan acuan utama untuk mengetahui dan mengontrol arus uang yang beredar di masyarakat.

Sebagai contoh, jika di negeri ini berdiri negara Khilafah dan diketahui jumlah uang yang beredar (misalnya) M1 = Rp 200,- triliun dan M2 (misalnya 5 kalinya) = Rp 1.000,- triliun, sedangkan harga 1 Dinar emas terhitung (juni 2011) = Rp 1.900.000,- maka negara Khilafah paling tidak harus memiliki cadangan emas yang setara dengan 631,6 juta dinar atau sekitar 2.684 ton emas. Perhitungannya akan berbeda sedikit jika ketersediaan emas yang ada di dalam negeri tidak mencukupi sehingga mengharuskan negara Khilafah membelinya ke pasar internasional (dengan harga USD, yang saat ini berada pada kisaran USD 1.500-an per troy-ounce-nya, dengan 1 troy-ounce = 31,103 gram emas).

Negara Khilafah hanya akan mengganti uang beredar yang menunjukkan kekayaan riil masyarakat. Tidak termasuk kekayaan riil adalah uang yang diciptakan dari udara kosong oleh bank melalui sistem ribawi, ataupun transaksi non riil di pasar uang dan bursa saham.  Kemudian, apakah cadangan emas dan perak yang dimiliki negara saat ini mencukupi untuk menjamin total nominal M1 dan M2 ? Jika jawabannya ya, maka negara Khilafah saat itu juga dapat menggantikan mata uang yang ada menjadi dinar dan dirham yang syar‘î.

Negara Khilafah dapat mencetak dinar atau dirham syar‘î, kemudian terhadap masyarakat diberikan tenggat waktu untuk menukar mata uangnya menjadi dinar dan dirham. Negara juga dapat mengeluarkan uang dalam bentuk lain seperti uang kertas, uang logam uang plastik, ataupun e-dinar, dengan nominal yang setara dinar ataupun dirham dan di-back-up keberadaannya 100% oleh ketersediaan emas dan perak.

Dengan demikian, upaya negara Khilafah untuk memiliki ketersediaan dan ketercukupan cadangan devisa harus dimulai sejak sekarang (meski negara Khilafah itu belum lagi terwujud), yaitu dengan meningkatkan cadangan emas dan perak serta mencegah pelarian emas atau perak ke luar negeri.

Maka, langkah-langkah praktis yang dapat menjaga dan menambah ketersediaan emas atau perak antara lain :

  1. Negeri-negeri Muslim saat ini harus mengurangi atau bahkan menghentikan impor barang-barang luar negeri. Sebab, hal ini hanya berakibat pada pelarian modal keluar negeri (dalam bentuk emas/perak dan mata uang asing).
  2. Meningkatkan ekspor ke luar negeri, dengan pembayaran berupa emas/perak atau mata uang asing yang digunakan untuk pembayaran impor (jika negara masih melakukan impor terhadap komoditi tertentu yang sangat diperlukan).
  3. Menghentikan dan mengambilalih perusahaan-perusahaan pertambangan (termasuk pertambangan emas dan perak) yang dikonsesikan kepada pihak asing. Dengan begitu, negaralah yang akan memproduksi, mengontrol, dan menjadikannya sebagai cadangan devisa untuk mem-back-up penerbitan dinar dan dirham yang syar‘î.
  4. Negara memaksakan setiap transaksi perdagangan dengan luar negeri untuk menggunakan standar dinar dan dirham (atau mata uang yang berbasis pada logam emas dan perak).

Permasalahannya adalah tidak mungkin suatu negara melakukan ke empat langkah di atas kecuali negara tersebut mampu melawan hegemoni politik, ekonomi, dan militer negara-negara adidaya saat ini, terutama AS. Sebab, AS tidak akan tinggal diam terhadap keberadaan negara lain yang akan menghancurkan sistem ekonomi Kapitalis yang dibangun untuk melayani kepentingan-kepentingannya di seluruh dunia. AS menghendaki seluruh negara yang ada di dunia merujuk pada USD, karena hal ini dapat dijadikan senjata dan alat imperialisme baru AS untuk menghancurkan atau mengeksploitasi kekayaan negara-negara lain di dunia.

Itu berarti, sistem moneter yang syar‘î (dinar dan dirham) tidak akan berhasil diwujudkan pada suatu negara yang terkungkung oleh dominasi ekonomi kapitalis dan sangat tergantung pada kekuatan ekonomi global (terutama ekonomi negara-negara kafir Barat).

Untuk itu, umat Islam tanpa mengandalkan para penguasanya saat ini, harus mulai mempersiapkan ketersediaan dan ketercukupan cadangan devisa (dalam bentuk emas dan perak). Agar dengan berdirinya negara Khilafah (dalam waktu dekat, insya Allah) kaum Muslim dapat menerapkan secara total seluruh hukum-hukum Islam, termasuk hukum-hukum tentang moneter dan mata uang.

Keunikan dari dinar ataupun dirham adalah nilai intrinsik yang sama dengan ekstrinsiknya. Oleh karena itu, uang dinar ataupun dirham tidak memerlukan kebijakan pemerintah sebagai legal tender. Jika 4,25 gram emas 22 karat dicetak maka nilainya adalah 1 dinar, baik ada negara Khilafah ataupun tidak Begitu pula dengan 1 dirham perak tidak memerlukan keputusan dari negara Khilafah.

Berbeda dengan uang kertas yang berbentuk fiat money seperti euro, dolar AS ataupun rupiah. Agar uang kertas tersebut berlaku sebagai legal tender, diperlukan kebijakan dari pemerintah sehingga masyarakat menerimanya sebagai alat pembayaran/transaksi yang memiliki nilai tertentu.

Maka saat ini, walapun negara Khilafah belum ada. Dinar emas ataupun dirham perak telah tersedia dalam bentuk cetakan, baik yang dikeluarkan oleh PT Antam ataupun yang lainnya. Kebutuhan umat Islam akan dinar dan dirham harus terus ditingkatkan dalam rangka menjaga kekayaan dan memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang, bukan untuk kanzul maal.

Harapannya, walaupun negara yang ada tidak memperhatikan cadangan emas dan peraknya. Tapi umat Islam sedikit demi sedikit meningkatkan cadangan emas dan perak serta mencegah pelarian emas atau perak ke luar negeri dengan memiliki dinar dan dirham, yang insya Allah dapat dipergunakan ketika Khilafah berdiri kelak.


Tags:

carousel


Similar posts