Kaya vs Miskin, Perbedaan Yang Membedakan

Written by administrator   // June 30, 2011   // 0 Comments

gold1


Marshall Silver dalam bukunya Passion, Profit & power mengatakan 1% orang kaya di dunia menguasai 50% uang yang beredar atau 5% orang menguasai 90% uang yang beredar. Jika uang yang ada di seluruh dunia ini dibagi rata, maka setiap orang akan mendapatkan 2,4 Juta USD atau sekitar 21,6 miliar (1 USD = Rp. 9000). Dan 5 tahun semenjak tiap orang mendapatkan uang tersebut, porsi penguasaan uang akan kembali seperti semula, 1% orang menguasai 50% uang yang beredar atau 5% orang menguasai 90% uang yang beredar.

Pertanyaannya adalah, apa yang menyebabkan 1% orang bisa menguasai 50% kekayaan yang beredar atau kalau dihitung 5% orang maka kekayaan yang dikuasainya mencapai 90% ? Apa yang menyebabkan orang semakin kaya dan tetap menikmati kekayaannya tanpa bersusah payah, sedangkan saat yang sama banyak orang berjibaku dengan kerja keras, keringat diperas-peras dan tulang dibanting-banting tapi masih berkubang dalam kemiskinan ?

Intinya ada 2 penyebab kesenjangan tersebut :

  1. Sebab Struktural
  2. Sebab Kultural

Penyebab secara struktural berasal dari cengkraman kapitalisme global, atau yang dikatakan oleh Robert T Kiyosaki dalam salah satu bukunya sebagai Conspiracy of The Rich. Konspirasi yang dilakukan oleh orang-orang ultra kaya di dunia untuk merampok harta dan kekayaan suatu negara secara legal dengan cara kerjasama dengan pemerintahan di negara tersebut. Penjelasan bagian ini akan dipaparkan pada tulisan yang lain.

Penyebab yang kedua bersifat kultural, yaitu mindset yang membentuk budaya dan kebiasaan orang-orang. Terdapat perbedaan yang membedakan antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin dalam menyikapi uang dan kekayaan. Mindset yang berbeda tentang uang dan kekayaan inilah yang menjadikan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin.

Jika tiba-tiba anda mendapatkan bonus uang 10 juta rupiah di tempat anda bekerja, apa yang ada di benak anda ? Ipad ? Iphone ? Blackberry Baru ? TV plasma terbaru atau barang-barang mewah lainnya ?

Bila itu yang ada di benak anda, maka anda memiliki mindset orang-orang miskin. Karena ternyata orang-orang miskin, ketika memiliki uang mereka berfokus pada life style. Mereka fokus pada pikiran barang apa ya yang harus saya beli supaya kelihatan keren, gaul dan mengikuti perkembangan zaman ? Fokus pada life style itulah yang menyebabkan mereka tetap miskin walaupun sudah bekerja keras.

Cirinya sangat mudah untuk melihat apakah seseorang mentalnya miskin atau kaya. Walaupun mungkin kelihatan keren dengan baju mahal, handphone mahal, kemana-mana bawa ipad. Tapi tiap awal bulan merasa tidak tenang dikejar-kejar untuk membayar cicilan kredit barang. Mendapatkan gaji bulanan hanya untuk membayar hutang kredit berbagai barang.

Gratifikasi sensual dalam sistem kapitalisme telah menggeser konsumsi dari sekedar need (kebutuhan) menjadi “want” dan “greedy”. Orang berlomba-lomba memenuhi selera gaya hidupnya (ingin dan rakus), walaupun harus dengan cara berhutang.

Inilah mindset yang berfokus pada life style sehingga orang terjebak dalam arus konsumerisme ekonomi kapitalistik.

Bagaimana dengan orang-orang kaya ? Jangan bayangkan orang-orang kaya itu adalah mereka yang berbaju mewahh, bermobil mewah dan rumah yang mentereng di kawasan elit. Itu adalah pandangan yang keliru tentang orang-orang kaya.

Dalam buku best seller, The Millionaire Next Door dari New York Times, Thomas J. Stanley mewawancarai 300 orang jutawan Amerika serikat untuk mengetahui, bagaimana mereka berfikir ? Bagaimana mereka mendapatkan kekayaan ? Bagaimana mereka membelanjakan uangnya?  Akhirnya inilah jawaban yang ia temukan.

Berdasarkan temuan Thomas J. Stanley, orang kaya adalah :

  • Mereka yang merupakan miliuner sesungguhnya (kekayaan bersih > 1 juta USD) hidup secara hemat, membelanjakan uang jauh di bawah pendapatan rata-rata mereka
  • 80% dari mereka terlahir dari keluarga miskin atau menengah
  • Tidak berpakaian mahal, tidak pernah membeli jam tangan mahal, mengendarai mobil bekas dan tidak pernah membeli mobil baru
  • Menginvestasikan 20% pendapatan mereka dalam bisnis pribadi

 

Ternyata orang-orang kaya tersebut berfokus pada wealth style, alih-alih life style. Ketika mereka mendapatkan uang, yang ada di benak mereka adalaha uang ini saya apa kan ya supaya bisa bertambah banyak dan berkembang ? Orang-orang kaya berfokus pada wealth style, itulah yang menjadikan mereka semakin kaya. Dan itulah perbedaan yang membedakan antara orang-orang miskin dengan orang-orang kaya.

Bagaimana dengan mindset dan kultur seorang muslim dalam hal harta dan kekayaan?

Bila kita melihat Rasulullah saw dan para shahabat, sebagaimana diceritakan di dalam hadist dan berbagai atsar. Mereka memang terlihat miskin dari sisi pakaian, makanan, kendaraan, rumah dan bagaimana mereka menikmati berbagai kekayaan secara sederhana. Tapi itu tidak menunjukkan mereka itu miskin. Para shahabat radiallahu ‘anhum berfokus pada wealth style, bukan life style. Aset dan kekayaan mereka luar biasa tapi mereka hidup secara hemat. Apakah anda tahu bahwa penghasilan shahabat Utsman bin Affar ra setahun 2,8 triliun rupiah ? apalagi Abdurrahman bin Auf ra, penghasilannya lebih besar dari itu.

Islam mengajarkan ummatnya untuk berfokus pada wealth style bukan life style. Wealth style yang Islami adalah jalan memperoleh surga dengan pahala yang berlimpah.

Bagaimana Islamic Wealth style yang diajarkan oleh Rasulullah saw ? akan dijelaskan pada tulisan selanjutnya.

Wassalam.


Tags:

carousel


Similar posts